Sebelum sintesis protein dilakukan, perlulah diadakan persiapan yang menyeluruh, salah satunya pemasangan asam amino pada salah satu ujung tRNA. 1 asam amino harus diikatkan pasada salah satu ujung tRNA dengan antikodon yang benar, namun protein ini sesuai dengan kodon bukan antikodon. Enzim yang melakukan proses ini adalah enzim tRNA aminoasil sintetase. Enzim ini mengikatkan asam amino pada bagian sisi asam amino kemudian tRNA dengan antikodon spesifik untuk asam aminonya. tRNA dan asam amino berikatan pada enzim sebelum akhirnya dilepaskan.
SINTESIS PROTEIN
Sintesis protein adalah proses pembentukan protein dari monomer peptida yang diatur susunannya oleh kode genetik. Sintesis protein dimulai dari anak inti sel, sitoplasma dan ribosom.
Ada banyak tahapan antara ekspresi genotip ke fenotip.Gen-gen tidak dapat langsung begitu saja menghasilkan fenotip-fenotip tertentu. Fenotip suatu individu ditentukan oleh aktivitas enzim (protein fungsional). Enzim yang berbeda akan menimbulkan fenotip yang berbeda pula. Perbedaan satu enzim dengan enzim yang lain ditentukan oleh jumlah jenis dan susunan asam amino penyusun protein enzim.Pembentukan asam amino ditentukan oleh gen atau DNA.
Ekspresi gen merupakan proses dimana informasi yang dikode di dalam gen diterjemahkan menjadi urutan asam amino selama sintesis protein.Dogma sentral mengenai akspresi gen, yaitu DNA yang membawa informasi genetik yang ditrnaskripsi oleh RNA, dan RNA diterjemahkan menjadi polipeptida.Ekspresi gen merupakan sintesis protein yang terdiri dari dua tahap, yaitu tahap pertama urutan rantai nukleotida tempale (cetakan) dari suatu DNA untai ganda disalin untuk menghasilkan satu rantai molekul RNA.Proses ini disebut transkripsi dan berlangsung di inti sel.Tahap kedua merupakan sintesis pilopeptida dengan urutan spesifik berdasarkan rantai RNA yang dibuat pada tahap pertama.Proses ini disebut translasi.
Transkripsi
Transkripsi merupakan sintesis RNA dari salah satu rantai DNA, yaitu rantai cetakan atau sense, sedangkan rantai DNA komplemennya disebut rantai antisense.Rentangan DNA yang ditranskripsi menjadi molekul RNA disebut unit transkripsi. RNa dihasilkan dari aktivitas enzim RNA polimerase.Transkripsi terdiri dari tiga tahap, yaitu inisiasi (permulaan), elongasi (pemanjangan), dan terminasi (pengakhiran) rantai RNA.
Inisiasi
Daerah DNA dimana RNA polimerase melekat dan mengawali transkripsi disebut promoter.Suatu promoter mencakup titik awal transkripsi dan biasanya membentang beberapa pasangan nukleotida di depan titik awal tersebut.Selain itu, promoter juga menentukan di mana transkripsi dimulai, promoter juga menentukan yang mana dari kedua untai heliks DNA yang digunakan sebagai cetakan.
Elogasi
Setelah sintesis RNA berlangsung, NDA heliks ganda terbentuk kembali dan molekul RNA baru akan dilepas dari cetakan DNA-nya.Transkripsi berlanjut pada laju kira-kira 60 nukleotida per detik pada sel eukariotik.
Translasi
Dalam proses translasi, sel menginterpretasikan suatu kode genetik menjadi protein yang sesuai. Kode geneti tersebut berupa serangkaian kodon di sepanjang molekul RNAd, interpreternya adalah RNAt. RNAt mentransfer asam amino-asam amino dari kolam asam amino di sitoplasma ke ribosom.Molekul RNAt tidak semuanya identik. Pada tiap asam amino digabungkan dengan RNAt yang sesuai oleh suatu enzim spesifik yang disebut aminoasil-RNAt sintetase ( aminoacyl-tRNA synthetase ). Ribosom memudahkan pelekatan yang spesifik antara antikodon RNAt dengan kodon RNAd selama sintesis protein. Sebuah ribosom tersusun dari dua subunit, yaitu subunit besar dan subunit kecil. Subunit ribosom dibangun oleh protein-protein dan molekul-molekul RNAr.
Tahap translasi dapat dibagi menjadi tiga tahap seperti transkripsi, yaitu inisiasi elongasi, dan terminasi. Semua tahapan ini memerlukan faktor-faktor protein yang membantu RNAd, RNAt, dan ribosom selama proses translasi.Inisiasi dan elongasi rantai polipeptida juga membutuhkan sejumlah energi yang disediakan oleh GTP (guanosin triphosphat), suatu molekul yang mirip ATP.
Inisiasi
Tahap inisiasi dari translasi terjadi dengan adanya RNAd, sebuah RNAt yang memuat asam amino pertma dari polipeptida, dan dua subunit ribosom.Pertama, subunit ribosom kecil mengikatkan diri pada RNAd dan RNAt inisiator.Di dekat tempat pelekatan ribosom subunit kecil pada RNAd terdapat kodon inisiasi AUG, yang memberikan sinyal dimulainya proses translasi.RNAt inisiator, yang membawa asam amino metionin, melekat pada kodon inisiasi AUG.
Oleh karenanya, persyaratan inisiasi adalah kodon RNAd harus mengandung triplet AUG dan terdapat RNAt inisiator berisi antikodon UAC yang membawa metionin.Jadi pada setiap proses translasi, metionin selalu menjadi asam amino awal yang diingat.Triplet AUG dikatakan sebagai start codon karena berfungsi sebagai kodon awal translasi.
Elongasi
Pada tahap elongasi dari translasi, asam amino berikutnya ditambahkan satu per satu pada asam amino pertama (metionin). Pada ribosom membentuk ikatan hidrogen dengan antikodon molekul RNAt yang komplemen dengannya.Molekul RNAr dari subunit ribosom besar berfungsi sebagai enzim, yaitu mengkatalisis pembentukan ikatan peptida yang menggabungkanpolipeptida yang memanjang ke asam amino yang baru tiba.Pada tahap ini polipeptida memisahkan diri dari RNAt tempat perlekatannya semula, dan asam amino pada ujung karboksilnya berikatan dengan asam amino yang dibawa oleh RNAt yang baru masuk.Saat RNAd berpindah tempat, antikodonnya tetap berikatan dengan kodon RNAt.RNAd bergerak bersama-sama dengan antikodon dan bergeser ke kodon berikutnya yang akan ditranslasi.Sementara itu, RNAt yang tanpa asam amino telah diikatkan pada polipeptida yang sedang memanjang dan selanjutnya RNAt keluar dari ribosom.Langkah ini membutuhkan energi yang disediakan oleh hirolisis GTP.Kemudian RNAd bergerak melalui ribosom ke satu arah saja, kodon satu ke kodon lainnya hingga rantai polipeptidanya lengkap.
Terminasi
Tahap akhir translasi adalah terminasi.Elongasi berlanjut hingga ribosom mencapai kodon stop.Triplet basa kodon stop adalah UAA, UAG, atau UGA.Kodon stop tidak mengkode suatu asam amino melainkan bertindak sebagai sinyal untuk menghentikan translasi.
Ribosom merupakan tempat sel membuat protein. Sel yang memiliki laju sintesis protein yang tinggi secara khusus memiliki jumlah ribosom yang sangat banyak. Misalnya, sel hati manusia memiliki beberapa juta ribosom. Tidak mengejutkan jika sel yang aktif dalam mensintesis protein juga memiliki nucleoli yang terlihat jelas.
Ribosom sesungguhnya terdapat di dalam sel baik sel prokariotik maupun sel eukariotik. Dalam sel prokariotik ribosom sering ditemukan secara bebas di dalam sitoplasma. Arti bebas disini adalah tidak menempel pada organel-organel lainnya yang terdapat di dalam sitoplasma. Sedangkan pada sel eukariotik, selain bebas terdapat di dalam sitoplasma, juga ribosom ini umumnya menempel pada permukaan membrane reticulum endoplasma.
Ribosom membangun protein dalam dua lokasi sitoplasmik. Ribosom bebas tersuspensi dalam sitosol, sementara ribosom terikat dilekatkan pada bagian luar jalinan membrane yang disebut reticulum endoplasmic. Sebagian besar protein yang dibuat ribosom bebas akan berfungsi di dalam sitosol, contohnya ialah enzim-enzim yang mengkatalis proses metabolisme yang bertempat di dalam sitosol. Ribosom terikat umumnya membuat protein yang dimaksudkan untuk dimasukkan ke dalam membra, untuk pembungkusan dalam organel tertentu seperti lisosom, atau untuk dikirim ke luar sel. Ribosom terikat dan bebas secara struktural identik dan dapat saling bertukar tempat, dan selnya dapat menyesuaikan jumlah relative dan masing-masing jenis ribosom begitu metabolismenya berubah.
Ribosom biasanya dapat dipisahkan dari sel dengan menggunakan alat pemusing (centrifuge). Koefisien pengendapan dari ribosom tersebut dideterminasi dengan bermacam-macam teknik elektronik dan optic. Koefisien pengendapan dinyatakan dalam Syedberg Unit atau Unit S. S ini didasarkan pad ukuran dan berat partikel-partikel ribosom.
a. Tipe-tipe Ribosom
Berdasarkan ukuran dan koefisien pengendapannya (S), kita mengenal 2 macam ribosom, yaitu:
1)Ribosom 70S: tipe ribosom ini disusun oleh dua buah subunit yaitu subunit 50S, dan 30S. Koefisien pengendapan yang dimilikinya adalah 70S, serta berat molekulnya 2,7x106 dalton. Ribosom tipe ini umumnya terdapat pada sel prokariotik seperti ganggang biru dan bakteri, akan tetapi juga dapat ditemukan pada mitokondria dan kloroplas dari sel-sel eukariotik. Bila dibandingkan dengan tipe ribosom ynag satunya lagi, maka ukuran dari ribosom 70S ini adalah lebih kecil.
2)Ribosom 80S: tipe ribosom ini disusun oleh subunit 60S dan 40S. koefisien endapannya 80S dan berat molekulnya 4,5x106 dalton. Ribosom ini terdapat pada sel-sel eukariotik tumbuhan dan sel-sel binatang
b. Struktur Ribosom
Ribosom yang komplit disusun oleh kedua subunit yang dimiliki oleh masing-masing tipe. Ribosom tersebut dinamakan monomer. Walaupun ribosom dari kedua tipe tersebut mempunyai 30-40% protein dengan RNA-nya, akan tetapi komponen protein spesifik dan RNA dari kedua tipe ribosom tersebut berbeda, karbohidrat dan lemak pada hakekatnya dapat dianggap tidak ada. Suatu hal yang perlu diketahui adalah peranan ion magnesium yang berfungsi untuk menjaga keutuhan struktur ribosom tersebut.
Bila kita mengamati ribosom dengan menggunakan mikroskop electron maka akan tampak bahwa ribosom ini merupakan struktur yang bulat lonjong, dan pipih di bagian ujungnya. Ribosom mempunyai diameter 150-250A0 , dan disusun oleh dua buah subunit. Salah satu subunit ribosom ukurannya lebih besar dibandingkan dengan subunit lainnya.
Subunit yang lebih besar mempunyai bentuk seperti kubah, sementara subunit yang lebih kecil terletak di atas subunit yang lebih besar tadi membentuk struktur yang menyerupai topi.
Bila di dalam matriks konsentrasi ion magnesium cukup tinggi maka kedua subunit ribosom akan bersatu membentuk suatu kesatuan yang disebut dimmer. Suatu hal yang perlu diketahui adalah selam proses sintesis protein banyak ribosom yang bersatu. Hal ini disebabkan ribosom-ribosom tersebut diperlukan untuk membentuk poliribosom atau polisom bersama-sama dengan messenger RNA (mRNA).
Struktur halus atau ultrastruktur dari ribosom sesungguhnya masih belum banyak dipelajari, namun Nauninga (1967) telah mengamati subunit 50S dari ribosom 70S. Ternyata subunit tersebut mempunyai bentuk pentagonal (lima buah sudut) derta merupakan partikel yang kompak dengan ukuran 160-180A0 . Pada bagian tenagh subunit ini terdapat suatu bulatan atau saluran sebesar 40-60A0.
Ribosom merupakan tempat sel membuat protein. Sel yang memiliki laju sintesis protein yang tinggi secara khusus memiliki jumlah ribosom yang sangat banyak. Misalnya, sel hati manusia memiliki beberapa juta ribosom. Tidak mengejutkan jika sel yang aktif dalam mensintesis protein juga memiliki nucleoli yang terlihat jelas.
Ribosom sesungguhnya terdapat di dalam sel baik sel prokariotik maupun sel eukariotik. Dalam sel prokariotik ribosom sering ditemukan secara bebas di dalam sitoplasma. Arti bebas disini adalah tidak menempel pada organel-organel lainnya yang terdapat di dalam sitoplasma. Sedangkan pada sel eukariotik, selain bebas terdapat di dalam sitoplasma, juga ribosom ini umumnya menempel pada permukaan membrane reticulum endoplasma.
Ribosom membangun protein dalam dua lokasi sitoplasmik. Ribosom bebas tersuspensi dalam sitosol, sementara ribosom terikat dilekatkan pada bagian luar jalinan membrane yang disebut reticulum endoplasmic. Sebagian besar protein yang dibuat ribosom bebas akan berfungsi di dalam sitosol, contohnya ialah enzim-enzim yang mengkatalis proses metabolisme yang bertempat di dalam sitosol. Ribosom terikat umumnya membuat protein yang dimaksudkan untuk dimasukkan ke dalam membra, untuk pembungkusan dalam organel tertentu seperti lisosom, atau untuk dikirim ke luar sel. Ribosom terikat dan bebas secara struktural identik dan dapat saling bertukar tempat, dan selnya dapat menyesuaikan jumlah relative dan masing-masing jenis ribosom begitu metabolismenya berubah.
Ribosom biasanya dapat dipisahkan dari sel dengan menggunakan alat pemusing (centrifuge). Koefisien pengendapan dari ribosom tersebut dideterminasi dengan bermacam-macam teknik elektronik dan optic. Koefisien pengendapan dinyatakan dalam Syedberg Unit atau Unit S. S ini didasarkan pad ukuran dan berat partikel-partikel ribosom.
a. Tipe-tipe Ribosom
Berdasarkan ukuran dan koefisien pengendapannya (S), kita mengenal 2 macam ribosom, yaitu:
1)Ribosom 70S: tipe ribosom ini disusun oleh dua buah subunit yaitu subunit 50S, dan 30S. Koefisien pengendapan yang dimilikinya adalah 70S, serta berat molekulnya 2,7x106 dalton. Ribosom tipe ini umumnya terdapat pada sel prokariotik seperti ganggang biru dan bakteri, akan tetapi juga dapat ditemukan pada mitokondria dan kloroplas dari sel-sel eukariotik. Bila dibandingkan dengan tipe ribosom ynag satunya lagi, maka ukuran dari ribosom 70S ini adalah lebih kecil.
2)Ribosom 80S: tipe ribosom ini disusun oleh subunit 60S dan 40S. koefisien endapannya 80S dan berat molekulnya 4,5x106 dalton. Ribosom ini terdapat pada sel-sel eukariotik tumbuhan dan sel-sel binatang
b. Struktur Ribosom
Ribosom yang komplit disusun oleh kedua subunit yang dimiliki oleh masing-masing tipe. Ribosom tersebut dinamakan monomer. Walaupun ribosom dari kedua tipe tersebut mempunyai 30-40% protein dengan RNA-nya, akan tetapi komponen protein spesifik dan RNA dari kedua tipe ribosom tersebut berbeda, karbohidrat dan lemak pada hakekatnya dapat dianggap tidak ada. Suatu hal yang perlu diketahui adalah peranan ion magnesium yang berfungsi untuk menjaga keutuhan struktur ribosom tersebut.
Bila kita mengamati ribosom dengan menggunakan mikroskop electron maka akan tampak bahwa ribosom ini merupakan struktur yang bulat lonjong, dan pipih di bagian ujungnya. Ribosom mempunyai diameter 150-250A0 , dan disusun oleh dua buah subunit. Salah satu subunit ribosom ukurannya lebih besar dibandingkan dengan subunit lainnya.
Subunit yang lebih besar mempunyai bentuk seperti kubah, sementara subunit yang lebih kecil terletak di atas subunit yang lebih besar tadi membentuk struktur yang menyerupai topi.
Bila di dalam matriks konsentrasi ion magnesium cukup tinggi maka kedua subunit ribosom akan bersatu membentuk suatu kesatuan yang disebut dimmer. Suatu hal yang perlu diketahui adalah selam proses sintesis protein banyak ribosom yang bersatu. Hal ini disebabkan ribosom-ribosom tersebut diperlukan untuk membentuk poliribosom atau polisom bersama-sama dengan messenger RNA (mRNA).
Struktur halus atau ultrastruktur dari ribosom sesungguhnya masih belum banyak dipelajari, namun Nauninga (1967) telah mengamati subunit 50S dari ribosom 70S. Ternyata subunit tersebut mempunyai bentuk pentagonal (lima buah sudut) derta merupakan partikel yang kompak dengan ukuran 160-180A0 . Pada bagian tenagh subunit ini terdapat suatu bulatan atau saluran sebesar 40-60A0.
Kacang kedelai dianggap sebagai salah satu bahan makanan sumber protein nabati yang paling baik. Selain kandungan proteinnya yang cukup tinggi (35%), mutu protein kedelai juga cukup baik karena mengandung semua jenis asam amino esensial yang diperlukan tubuh. Selain itu, kacang kedelai terkenal dengan niali gizinya yang kaya. Kacang kedelai juga merupakan “protein lengkap” dan sebagai salah satu makanan yang mengandung 8 asam amino yang penting dan diperlukan oleh tubuh manusia.
Tidak seperti makanan lain yang mengandung lemak jenuh dan tidak dapat dicerna yang terdapat pada sebagian besar makanan hewan, kacang kedelai tidak mengandung kolesterol, kedelai juga mempunyai rasio kalero yang rendah dibandingkan protein. Kacang kedelai juga mengandung kalsium , besi, potassium dan phosphorous. Kacang kedelai juga kaya akan vitamin B kompleks.
Merupakan salah satu yang mengandung protein tinggi, makanan berkalsium tinggi di pasaran , kacang kedelai juga unik karena bebas dari racun kimia. Protein kedelai berkhasiat menyehatkan tubuh dan meningkatkan stamina serta perkembangan sel tubuh. Selain itu, lemak kedelai yang mengandung asam lemak essensial diperlukan tubuh sebagai sumber energi karena bebas kolestrol, dan terutama bagi perkembangan sel otak (bagi anak - anak / balita).
Dan untuk ekstrak protein dalam kedelai mengandung estrogen dalam bentuk zat isoflavon atau disebut dengan phytoestrogen. Dampak mengonsumsi phytestrogen, kerutan di kulit akan berkurang. Sama dampaknya seperti hasil terapi hormon untuk mengurangi penuaan kulit. Selain berperan mengganti estrogen, kedelai juga berfungsi sebagai antioksidan yang mampu melindungi tubuh terhadap timbulnya kanker sebab menetralkan radikal bebas, yang berasal dari lingkungan terpolusi.
Protein dalam militer
Protein juga dapat mendebarkan dengan aplikasinya untuk militer. Satu dari jenis senjata biologis yang mematikan, racun botulinum dari bakteri Clostridium botulinium, adalah protein. Zat-zat racun dalam bakteri Bacillus anthracis juga berbentuk protein. Dari jenis senjata kimia, gas kimia misalnya Sarin, VX, OP, bekerja dengan mematikan kerja enzim-enzim dalam sistem saraf seperti enzim acetylcholinesterase.
Pada tahun 1995, para peneliti dari lembaga penelitian medis Angkatan Darat AS berhasil memutasi enzim ini sehingga sama sekali kebal terhadap gas-gas saraf beracun itu. Di LIPI, rekayasa protein digunakan untuk mengembangkan enzim-enzim sebagai alat diagnosa penyakit seperti DM dan kanker.
3.Protein Dalam Bisa Ular
Bisa ular (Snake venom) adalah senyawa protein (highly modified) yang dihasilkan oleh ular dengan spesifikasi yang berbeda-beda sesuai dengan jenisnya.Bisa ular itu itu merupakan racun dan zat yang bersifat racun itu baru bersifat racun pada jumlah tertentu. Itulah yang disebut ambang batas, bila lebih dari itu tubuh kita tidak dapat menetralisirnya. Bagian tubuh yang menetralisir racun itu adalah hati (hepar) dan antibody yang ada dalam darah putih (leukosit), bila lebih dari ambang batas akan terjadi malfungsi hati, dan bisa menyebabkan pada akhirnya. Bisa ular yang akan dicari penawarnya, dalam jumlah yang tidak mematikan disuntikkan ke hewan yang mempunyai kekebalan tinggi, biasanya kuda. Tubuh kuda akan membentuk antibody dalam darahnya. Kemudian kita ambil protein dari darah Kuda tersebut, inilah yang menjadi apa yang kita sebut serum. serum inilah penawar dari racun bisa ular tersebut.
Sebenarnya, kita pun memiliki kekebalan tubuh(anti body), akan tetapi mempunyai keterbatasan, sehingga untuk membantu antibody tersebut dibutuhkan serum. Antibody tersebut ada dalam darah putih(leukosit) yang disebut daya imun aktif, sedangkan serum disebut daya imun pasif.
Protein whey adalah suatu istilah kolektif yang menunjukkan suatu jajaran pecahan protein yang ditemukan dalam susu. Produk-produk protein whey diklasifikasi menjadi beberapa kategori yang berdasar pada rasio makronutriennya yang memenuhi beragam tujuan pabrik makanan (lihat deskripsi produk whey di Reference Manual for U.S. Whey and Lactose Products). Namun, jumlah penelitian yang terus meningkat menyarankan bahwa konsentrat (WPC 80) dan isolat (WPI) protein whey secara ideal cocok bagi orang-orang yang berpartisipasi dalam latihan yang rutin. WPC80 dan WPI tidak hanya memberikan sumber murni protein berkualitas tinggi dengan lemak yang minim, karbohidrat dan laktosa, mereka secara biokimia dibentuk untuk mempromosikan kekebalan yang kuat, penyembuhan otot secara efisien dan memperpanjang manfaat kesehatan secara menyeluruh dari aktifitas fisik. Monografi ini menerangkan fungsi dan potensi mekanisme terkini yang mana protein whey dapat meningkatkan status fisik dari orang-orang yang terlibat dalam olahraga dan latihan atletis.
5.Protein dalam rambut
Rambut merupakan protein fibrous,yang memiliki lapisan luar yang non polar,sehingga tidak larut dalam air.Pada rambut, sepasang rantai heliks α-keratin saling melilit, kemudian 2 pasang lilitan (protofilament) bergabung membentuk 4 molekul protofibril. Selanjutnya 8 protofibril bergabung membentuk susunan mikrofibril. Susunan seperti ini elastis dan fleksibel. Namun pada jaringan yang berbeda-beda α-keratin mengeras dengan tingkat kekerasan yang berbeda beda, tergantung banyaknya ikatan silang disulfida yang terbentuk.Rambut merupakan protein dengan susunan asam amino cystein, di mana asam amino tersebut memiliki gugus hidroksil dan sulfida pada rantai sampingnya.Ikatan kovalen yang ada pada tiap2 rantai samping merupakan jembatan disulfida (-S-S) pada molekul protein.Jembatan ini adalah penyangga utama struktur tersier protein.Ikatan ini sangat kuat namun dapat direduksi menjadi residu sistein dengan ikatan sulfohidril (-S-H).
didapatkan bahwa uap panas merusak ikatan hidrogen yang mempertahankan struktur heliks bersama-sama.Jika α-keratin yang telah diuapkan dibiarkan mendingin dan gaya regang dilepaskan, protein ini secara spontan akan kembali pada konformasi α-heliks semula.Senyawa pereduksi dari beta merkaptoethanol memecah jembatan disulfida (-S-S) menjadi residu sistein-sistein (ikatan sulfohidril), satu pada masing-masing rantai. Uap panas memecah ikatan hidrogen dan menyebabkan struktur α-heliks pada rantai polipeptida keratin rambut menjadi terbuka dan meregang. Setelah beberapa lama, larutan pereduksi diangkat, dan suatu pengoksidasi (dalam hal ini digunakan cairan peroksida H2O2) ditambahkan untuk memantapkan ikatan disulfida yang baru di antara pasangan residu sistein pada rantai polipeptida yang berdampingan (namun bukan pasangan yang sama seperti sebelumnya). Dengan pencucian dan pendinginan rambut menggunakan aquades, rantai polipeptida berubah menjadi konformasi α-heliks. Serat rambut menjadi keriting sesuai model yang diinginkan, karena jembatan disulfida yang baru terbentuk menimbulkan belokan/keriting pada untaian lilitan α-heliks pada serat rambut.
6.Protein dalam kuku untuk mendiagnosa kesehatan
Jika mata adalah jendela hati, maka kuku merupakan jendela kondisi kesehatan Anda. Warna dan tekstur kuku dapat menunjukkan kondisi kesehatan seseorang. Kuku yang sehat berwarna bening, bertekstur halus dan kuat. Coba perhatikan lagi kuku Anda, lihatlah, apakah ada garis-garis halus berwarna putih, sedikit kemerahan, atau barangkali tekstur kuku Anda sedikit bergelombang di permukaan. Bagi Anda, mungkin ini tidak berarti apa-apa. Namun bagi mata yang terlatih, ketidakberesan ini bisa berarti banyak, petunjuk berharga mengenai kondisi kesehatan Anda secara keseluruhan. Garis-garis putih horizontal di kuku menunjukkan pemiliknya kekurangan protein dalam Tanda-tanda lainnya, jika kuku Anda berwarna keputihan, bisa jadi itu tanda penyakit liver atau hepatitis. Kuku berwarna kekuningan, menebal, dan pertumbuhan kuku lambat, mengindikasikan penyakit paru-paru. Kuku kekuningan dan bergelombang mengindikasikan diabetes. Kuku berwarna keputihan dan sedikit kemerahan, menandakan gejala ginjal. Dasar kuku berwarna merah, menunjukkan penyakit jantung. Kuku putih pucat, menandakan anemia.Jika terjadi perubahan pada kuku Anda, segera konsultasikan dengan dokter. Dokter akan membantu mendiagnosis penyakit yang Anda derita, atau memastikan Anda tidak apa-apa, hanya penyakit kuku biasa yang disebabkan infeksi atau jamur. Sementara perubahan warna bergaris horizontal dapat mengeindikasikan keracunan arsenik, malaria, efek kemoterapi, atau keracunan karbon monoksida.
Kloning ekspresi
Salah satu teknik dasar biologi molekular adalah kloning ekspresi, yang digunakan misalnya untuk mempelajari fungsi protein. Pada teknik ini, potongan DNA penyandi protein yang diinginkan ditransplantasikan ke suatu plasmid (DNA sirkular yang biasanya ditemukan pada bakteri; dalam teknik ini, plasmid disebut sebagai vektor ekspresi).
Plasmid yang telah mengandung potongan DNA yang diinginkan tersebut kemudian dapat disisipkan ke dalam sel bakteri atau sel hewan. Penyisipan DNA ke dalam sel bakteri disebut transformasi, dan dapat dilakukan dengan berbagai metode, termasuk elektroporasi, mikroinjeksi dan secara kimia. Penyisipan DNA ke dalam sel eukaryota, misalnya sel hewan, disebut sebagai transfeksi, dan teknik transfeksi yang dapat dilakukan termasuk transfeksi kalsium fosfat, transfeksi liposom, dan dengan reagen komersial. DNA dapat pula dimasukkan ke dalam sel dengan menggunakan virus (disebut transduksi viral).
Setelah penyisipan ke dalam sel, protein yang disandi oleh potongan DNA tadi dapat diekspresikan oleh sel bersangkutan. Berbagai jenis cara dapat digunakan untuk membantu ekspresi tersebut agar protein bersangkutan didapatkan dalam jumlah besar, misalnya inducible promoter dan specific cell-signaling factor. Protein dalam jumlah besar tersebut kemudian dapat diekstrak dari sel bakteri atau eukaryota tadi.
8.Rahasia Kekuatan Jaring Laba-laba
Tahukah Anda bahwa jaring laba-laba sangat kuat, sehingga bila jaring itu dipilin menjadi setebal pensil dan dibentangkan di angkasa, sebuah pesawat Boeing 747 yang sedang terbang pun bisa terhenti karenanya. Bagaimana bisa sekuat itu? Inilah yang ingin diselidiki para ilmuwan dari Universitas Tufts, dekat Boston. Sejak berabad-abad, para ilmuwan dan ahli biologi menyimpan suatu pertanyaan dalam benaknya: Bagaimana seekor laba-laba mampu menciptakan jaring yang lima kali lebih kuat (dalam perbandingan berat yang sama) dibanding baja? Walau jawaban atas teka-teki itu belum sepenuhnya terpecahkan, namun para peneliti nyaris mencapai rahasianya.
Dari penelitian bertahun-tahun, David Kaplan, profesor teknik biomedis Universitas Tufts dan rekannya, Hyoung-Joon Jin, berhasil mengetahui protein-protein inti yang digunakan laba-laba dan ulat sutra dalam menghasilkan rajutannya. Merekapun berusaha meniru karya hewan-hewan itu, namun sejauh ini jaring buatan mereka masih kalah kuat dibanding jaring laba-laba. Ia menemukan bahwa laba-laba dan ulat sutra selalu mengontrol kecepatan larut, kekentalan dan struktur protein dalam kelenjar pembuat jaringnya. Ketika kekentalan itu mencapai tingkat yang tepat, saat itu pula mereka mulai memintal jaring.
Menurut Kaplan, protein untuk membuat jaring itu disimpan dalam struktur seperti sabun --disebut pseudo-micelle-- yang membuatnya berbentuk seperti agar-agar selama berada dalam kelenjar. Struktur yang setengah stabil tersebut menjaga agar protein tidak mengkristal terlalu cepat, hingga waktunya ia dipintal.
Bila waktu dan kekentalannya tepat, struktur yang terbentuk dalam kelenjar laba-laba dapat dengan mudah berubah menjadi serat yang kuat saat dikeluarkan sebagai jaring. Kandungan air dalam proses ini merupakan sesuatu yang amat penting karena pengkristalan yang terlalu dini bisa menyebabkan penyumbatan pada sistem pembuatan jaring pada tubuh laba-laba, dan akibatnya bisa fatal.
9.Protein anti kanker dari tembakau
Siapa sangka bahwa tanaman tembakau yang biasanya dijadikan bahan dasar rokok -sang penyebab kanker- , ternyata dapat pula menghasilkan protein anti-kanker. Anti-kanker dari tembakau ini diungkapkan oleh peneliti dari Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr. Arief Budi Witarto M.Eng. yang baru beberapa pekan lalu (Rabu, 13 Juni) terpilih sebagai penerima penghargaan Fraunhofer-DAAD-Award 2007 dari Jerman untuk riset tentang tembakau molecular farming.
Daun tembakau yang biasanya untuk roduksi rokok, kini ia manfaatkan sebagai reaktor penghasil protein GCSF, suatu hormon yang sangat penting dalam menstimulasi produksi darah. Arief mengatakan bahwa protein dibuat oleh DNA dalam tubuh kita. Nah, jika DNA dalam tubuh kita ini dipindahkan ke tembakau melalui bakteri, begitu masuk, tumbuhan ini akan mampu membuat protein sesuai DNA yang telah dimasukkan tersebut. Kemudian, jika tumbuhan itu dipanen, maka kita dapatkan protein-nya. Nah, protein inilah yang bisa dipakai sebagai protein anti-kanker.
Selain untuk protein anti-kanker, GSCF, ujarnya, bisa juga untuk menstimulasi perbanyakan sel tunas (stem cell) yang bisa dikembangkan untuk memulihkan jaringan fungsi tubuh yang sudah rusak.
10.Manfaat Air Liur
Bagi sebagian orang, air liur seringkali terlihat menjijikkan. Padahal air yang berasal dari dalam mulut itu mempunyai peran penting bagi kesehatan tubuh manusia. Air liur atausaliva sebagian besar diproduksi oleh tiga kelenjar utama yakni kelenjar parotis, kelenjar sublingual dan kelenjar submandibula. Volume air liur yang diproduksi bervariasi yaitu 0,5 – 1,5 liter setiap hari tergantung pada tingkat perangsangannya. Mengutip Guyton & Hall dalam Textbook of Medical Physiology, air liur atau saliva mengandung dua tipe pengeluaran atau sekresi cairan yang utama yakni sekresi serus yang mengandung ptyalin (suatu alfa amylase) yang merupakan enzim untuk mencernakan karbohidrat dan sekresi mucus yang mengandung musin untuk tujuan pelumasan atau perlindungan permukaan yang sebagian besar dihasilkan oleh kelenjar parotis. Cairan tipe mucus itu disekresikan atau dikeluarkan setiap detik sepanjang waktu kecuali saat tidur yang produksinya lebih sedikit.
Dalam hal pencernaan, air liur berperan dalam membantu pencernaan karbohidrat. Karbohidrat atau tepung sudah mulai dipecah sebaagian kecil dalam mulut oleh enzim ptyalin. Enzim dalam air liur itu memecah tepung (amylum) menjadi disakarida maltosa dan polimer glukosa kecil lainnya.
Misalnya, saat Anda mengunyah nasi yang terasa tawar lama-kelamaan akan terasa manisakibat pecahnya zat tepung menjadi maltosa yang rasanya manis. Selain dalam pencernaan air liur juga berperan dalam kebersihan mulut. Sekresi saliva terutama tipe mucus penting dalam mempertahankan kesehatan jaringan rongga mulut. Rongga mulut berisi bakteri atau kuman patogen (merugikan) yang dengan mudah merusak jaringan dan menimbulkan karies gigi (gigi berlubang). Air liur juga mencegah kerusakan dengan beberapa cara. Pertama, aliran air liur itu sendiri membantu membuang bakteri atau kuman patogen juga partikel makanan yang memberi dukungan nutrisi metabolik bagi bakteri itu sendiri. Kedua, air liur mengandung beberapa faktor yang menghancurkan bakteri salah satunya adalah ion tiosianat dan beberapa cairan proteolitik terutama lisosim yang menghancurkan bakteri,membantu ion tiosianat membunuh bakteri,mencerna partikel makanan dan air liur mengandung antibodi protein yang menghancurkan bakteri.
Sementara itu, berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan di Jepang pada tahun 2001, seperti yang dikutip dari cbn.com, air ludah mengandung 40 sampai 50 protein. Tiap protein punya fungsi yang berbeda-beda. Satu protein untuk menangkal debu, sinar, dan bahan kimia. Dari 50 protein itu di dalamnya ada 3 protein yang khusus untuk mikroorganisme
Protein (protos yang berarti ”paling utama") adalah senyawa organik kompleks yang mempuyai bobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Peptida dan protein merupakan polimer kondensasi asam amino dengan penghilangan unsur air dari gugus amino dan gugus karboksil. Jika bobot molekul senyawa lebih kecil dari 6.000, biasanya digolongkan sebagai polipeptida.
Proetin banyak terkandung di dalam makanan yang sering dikonsumsi oleh manusia. Seperti pada tempe, tahu, ikan dan lain sebagainya. Secara umum, sumber dari protein adalah dari sumber nabati dan hewani. Protein sangat penting bagi kehidupan organisme pada umumnya, karena ia berfungsi untuk memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak dan suplai nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Maka, penting bagi kita untuk mengetahui tentang protein dan hal-hal yang berkaitan dengannya.
Pada umumnya kadar protein di dalam bahan pangan menentukan mutu bahan pangan itu sendiri (S.A. & Suwedo H. ,1987). Protein yang mudah dicerna menunjukkan tingginya jumlah asam-asam amino yang dapat diserap oleh tubuh dan begitu juga sebaliknya. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi daya cerna protein dalam tubuh adalah kondisi fisik dan kimia bahan. Makin keras bahan, maka akan menurunkan daya cernanya dalam tubuh karena adanya ikatan kompleks yang terdapat di dalam bahan yang sifatnya semakin kuat. Ikatan ini dapat berupa ikatan antar molekul protein, ikatan protein- fitat, dan sebaginya. Sedangkan kondisi kimia yaitu adanya senyawa anti gizi seperti tripsin inhibitor dan fitat (Muchtadi, 1989).
DASAR TEORI
Protein merupakan suatu zat makanan yang sangat penting bagi tubuh karena zat ini berfungsi sebagai sumber energi dalam tubuh serta sebagai zat pembangun dn pengatur. Protein adalah polimer dari asam amino yang dihubungkan dengan ikatan peptida. Molekul protein mengandung unsur-umsur C, H, O, N, P, S, dan terkadang mengandung unsur logam seperti besi dan tembaga (Winarno, 1992).
Protein merupakan suatu polipeptida dengan BM yang sangat bervariasi dari 5000 samapi lebih dari satu juta karena molekul protein yang besar, protein sangat mudah mengalami perubahan fisis dan aktivitas biologisnya. Banyak agensia yang menyebabkan perubahan sifat alamiah dari protein seperti panas, asam, basa, solven organik, garam, logam berat, radiasi sinar radioaktif (Sudarmadji, 1996).
§Struktur utama protein
Struktur protein dapat dibagi menjadi empat bentuk; primer, sekunder, tersier dan kuartener. Susunan linier asam amino dalam protein merupakan struktur primer. Susunan tersebut akan menentukan sifat dasar protein dan bentuk struktur sekunder serta tersier. Bila protein menandung banyak asam amino dengan gugus hidrofobik, daya kelarutannya kurang dalam air dibandingkan dengan protein yang banyak mengandung asam amino dengan gugus hidrofil. (Winarno, 1992).
a.Struktur primer
Susunan atau urutan bagaimana asam-asam amino yang disatukan, dan susunan ini mencakup lokasi setiap ikatan sulfida. Terdiri dari ikatan peptida dan jembatan sulfida. Gugus α- karboksil yang ikut terlibat dalam pembentukan ikatan peptida disebut sebagai “residu aminoasil”. Residu ini menggantikan akhiran –at atau –in pada asam amino bebas dengan akhiran –il (misal, alanin, asapartil, tirosil). Peptida diberi nama sebagai derivat dari residu aminoasil dengan gugus terminal karboksil. Contoh, tetra peptida Lys-Leu-Tyr-Gln diberi nama sebagai derivat glutamin dan disebut sebagai lisil-Leusil-tirosil-glutamin. Akhiran –in pada glutamin menunjukan bahwa gugus α-karboksilnya tidak terlibat dalam pembentukan ikatan peptide.
b.Struktur sekunder
Mengacu pada banyaknya heliks α (struktur yang terbentuk jika suatu rantai polipeptida diputar kekanan membentuk spiral ) ditambah lembaran β (struktur yang terbentuk jika 2 atau lebih segmen polipeptida sejajar berdampingan).
c.Struktur tersier
Membentuk struktur 3 dimensi karena interaksi antar rantai samping, disini protein distabilkan oleh ikatan ion, hydrogen, ikatan hidropobik, dan juga ikatan sulfida. Contohnya pada isomeri phosfatriosa, mioglobin, albumin.
d.Struktur kuartener
Yaitu protein yang mnegandung 2 atau lebih polipeptida, disini protein distabilkan oleh ikatan ion, hydrogen, ikatan hidropobik, dan juga ikatan sulfida contohnya pada hemoglobin
Rantai polipeptida disusun dari berbagai asam amino, sehingga tersusun membentuk urutan N-terminal disalah satu ujung dan C terminal di ujung lainnya.
§Klasifikasi protein
1.Bentuk
Fibrosa :sumbu panjang : sumbu pendek >10
Kolagen,fibrin,keratin
Globulin : sumbu panjang : pendek < 10, biasanya 3 atau 4
Globulin, albumin, insulin,
2.Elemen penyusun
1.Sederhana : bila dihidrolisis, menghasilkan asam amino saja
1.Albumin : larut dalam air,asam dan basa.
Mengendap dalam ammoniumsulfat jenuh
2.Globulin : larut dalam asam dan basa, tidak larut dalam air
Mengendap dalam ammoniumsulfat setengah jenuh
3.Glutelin dalam gandum
4.Prolamin : larut dalam alcohol 70 – 80%. Zein dalam jagung, gliadin dalam gandum
5.Albuminoid(skleroprotein) kolagen dan keratin
6.Histon : banyak mengandung asam amino basis
7.Protamin : bersifat basa. Tidak dapat digumpalkan dengan pemanasan. Contoh : salmin dalam ikan salem
2.Protein terkonjugasi
1.Nucleoprotein : PS + asam nukleat. Contoh: nukleohiston dan nuklein
1.Derivate protein primer : senyawa yang dihasilkan dari dekomposisi protein. Contoh : koagulum protein,protean,metaprotein
2.Derivate protein sekunder : produk hidrolisis protein. Contoh : proteosa, pepton,peptide, diketopiperazin
Protein yang terdapat dalam bahan pangan mudah mengalami perubahan-perubahan, antara lain:
1.Dapat terdenaturasi oleh perlakuan pemanasan.
2.Dapat terkoagulasi atau mengendap oleh perlakuan pengasaman.
3.Dapat mengalami dekomposisi atau pemecahan oleh enzim-enzim proteolitik.
4.Dapat bereaksi dengan gula reduksi, sehingga menyebabkan terjadinya warna coklat.
Denaturasi protein dapat diartikan suatu perubahan atau modifikasi terhdap struktur sekunder, tersier dan kuartener molekul protein tanpa terjadinya pemecahan ikatan-ikatan kovalen. Karena itu denaturasi dapat diartikan suatu proses terpecahnya ikatan hidrogen, interaksi hidrofobik, ikatan garam dan terbukanya lipatan atau wiru molekul protein. (Winarno, 1992).
Denaturasi protein
Denaturasi protein dapat diartikan suatu perubahan atau modifikasi terhadap struktur sekunder, tertier dan kuartener molekul protein tanpa terjadinya pemecahan ikatan-ikatan kovelen. Karena itu, denaturasi dapat diartikan suatu proses terpecahnya ikatan hydrogen, interaksi hidrofobik, ikatan garam dan aterbukanya lipatan atau wiru molekul protein (Winarno, 1992).
Protein yang terdenaturasi akan berkurang kelarutannya. Lapisan molekul bagian dalam yang ersifat hidrofobik akan keluar sedangkan bagian hidrofilik akan terlipat ke dalam. Pelipatan atau pembakikkan akan terjadi bila protein mendekati pH isoelektris lalu protein akan menggumpal dan mengendap. Viskositas akan bertambah karena molekul mengembang menjadi asimetrik, sudut putaran optis larutan protein juga akan meningkat (Winarno, 1992).
Denaturasi protein meliputi gangguan dan kerusakan yang mungkin terjadi pada struktur sekunder dan tersier protein. Sejak diketahui reaksi denaturasi tidak cukup kuat untuk memutuskan ikatan peptida, dimana struktur primer protein tetap sama setelah proses denaturasi. Denaturasi terjadi karena adanya gangguan pada struktur sekunder dan tersier protein. Pada struktur protein tersier terdapat empat jenis interaksi yang membentuk ikatan pada rantai samping seperti; ikatan hidrogen, jembatan garam, ikatan disulfida dan interaksi hidrofobik non polar, yang kemungkinan mengalami gangguan. Denaturasi yang umum ditemui adalah proses presipitasi dan koagulasi protein (Ophart, C.E., 2003).
(Ophart, C.E., 2003).
Denaturasi karena Panas:
Panas dapat digunakan untuk mengacaukan ikatan hidrogen dan interaksi hidrofobik non polar. Hal ini terjadi karena suhu tinggi dapat meningkatkan energi kinetik dan menyebabkan molekul penyusun protein bergerak atau bergetar sangat cepat sehingga mengacaukan ikatan molekul tersebut. Protein telur mengalami denaturasi dan terkoagulasi selama pemasakan. Beberapa makanan dimasak untuk mendenaturasi protein yang dikandung supaya memudahkan enzim pencernaan dalam mencerna protein tersebut (Ophart, C.E., 2003).
Pemanasan akan membuat protein bahan terdenaturasi sehingga kemampuan mengikat airnya menurun. Hal ini terjadi karena energi panas akan mengakibatkan terputusnya interaksi non-kovalen yang ada pada struktur alami protein tapi tidak memutuskan ikatan kovalennya yang berupa ikatan peptida. Proses ini biasanya berlangsung pada kisaran suhu yang sempit (Ophart, C.E., 2003).
Denaturasi karena Asam dan basa:
Protein akan mengalami kekeruhan terbesar pada saat mencapai ph isoelektris yaitu ph dimana protein memiliki muatan positif dan negatif yang sama, pada saat inilah protein mengalami denaturasi yang ditandai kekeruhan meningkat dan timbulnya gumpalan. (Anna, P., 1994). Asam dan basa dapat mengacaukan jembatan garam dengan adanya muatan ionik. Sebuah tipe reaksi penggantian dobel terjadi sewaktu ion positif dan negatif di dalam garam berganti pasangan dengan ion positif dan negatif yang berasal dari asam atau basa yang ditambahkan. Reaksi ini terjadi di dalam sistem pencernaan, saat asam lambung mengkoagulasi susu yang dikonsumsi (Ophart, C.E., 2003).
Denaturasi karena Garam logam berat:
Garam logam berat mendenaturasi protein sama dengan halnya asam dan basa. Garam logam berat umumnya mengandung Hg+2, Pb+2, Ag+1 Tl+1, Cd+2 dan logam lainnya dengan berat atom yang besar. Reaksi yang terjadi antara garam logam berat akan mengakibatkan terbentuknya garam protein-logam yang tidak larut (Ophart, C.E., 2003).
Protein akan mengalami presipitasi bila bereaksi dengan ion logam. Pengendapan oleh ion positif (logam) diperlukan ph larutan diatas pi karena protein bermuatan negatif, pengendapan oleh ion negatif diperlukan ph larutan dibawah pi karena protein bermuatan positif. Ion-ion positif yang dapat mengendapkan protein adalah; Ag+, Ca++, Zn++, Hg++, Fe++, Cu++ dan Pb++, sedangkan ion-ion negatif yang dapat mengendapkan protein adalah; ion salisilat, triklorasetat, piktrat, tanat dan sulfosalisilat. (Anna, P., 1994).
§Fungsi biologis protein
a. Protein struktur
Beberapa protein serabut, seperti kolagen dan keratin merupakan protein struktur. Kolagen memberikan kekuatan pada tulang, tulang rawan, gigi, dan tendon, serta merupakan matriks serta pada kulit dan pembuluh darah. Keratin ditemukan pada rambut, wol, tanduk, dan ekor.
b. Protein transport
Berfungsi memindahkan molekul yang lebih kecil dari satubagian tubuh ke bagian yang lainnya. Contohnya : hemoglobin yang berfungsi mengikat oksigen dari paru-paru yang membawanya ke sel-sel di seluruh tubuh.
c.Protein penyimpan
Contohnya : mioglobin yang menyimpan oksigen di dalam otot yang diperlukan
sewaktu tubuh melakukan kegiatan.
d. Protein pengatur
Berfungsi untuk mengatur akivitas seluler. Contohnya : insulin, hormon pertumbuhan, dan hormon seks.
e.Protein kontraktil
Memungkinkan perubahan bentuk atau pergerakan pada mahluk hidup. Contoh: pada aktin dan miosin yang berperan pada kontraksi otot
f. Protein pertahanan
Berfungsi untuk mengusir benda asing yang masuk ke dalam tubuh, seperti organisme pembawa penyakit (pathogen)
Contoh : Immunoglobulin untuk melawan kuman penyakit serta fibrinogen untuk menggumpalkan darah.
g.Protein enzim
Sebagai bioatalis untuk reaksi kimia. Enzim yang sering bekerja secara konjugasi satu sama lainnya.
Protein mengandung asam amino berinti benzen, jika ditambahkan asam nitrat pekat akan mengendap dengan endapan berwarna putih yang dapat berubah menjadi kuning sewaktu dipanaskan. Senyawa nitro yang terbentuk dalam suasana basa akan terionisasi dan warnanya akan berubah menjadi lebih tua atau jingga. Rekasi ini didasarkan pada uji nitrasi inti benzena yang terdapat pada mulekul protein menjadi senyawa intro yang berwarna kuning
Protein bersifat amfoter, yaitu dapat bereaksi dengan larutan asam dan basa. Daya larut protein berbeda di dalam air, asam, dan basa; ada yang mudah larut dan ada yang sukar larut. Namun, semua protein tidak larut dalam pelarut lemak seperti eter dan kloroform. Apabila protein dipanaskan atau ditambah etanol absolut, maka protein akan menggumpal (terkoagulasi). Hal ini disebabkan etanol menarik mantel air yang melingkupi molekul-molkeul protein.
Kelarutan protein di dalam suatu cairan, sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, pH, suhu, kekuatan ionik dan konstanta dielektrik pelarutnya. Protein seperti asam amino bebas memiliki titik isoelektrik yang berbeda-beda. Titik Isoelektrik (TI) adalah daerah pH tertentu dimana protein tidak mempunyai selisih muatan atau jumlah muatan positif dan negatifnya sama, sehingga tidak bergerak ketika diletakkan dalam medan listrik. Pada pH isoelektrik (pI), suatu protein sangat mudah diendapkan karena pada saat itu muatan listriknya nol.