Minggu, 07 November 2010

PROSES PEMBUSUKAN MAYAT

Pembusukan adalah proses degradasi jaringan pada tubuh mayat yang terjadi sebagai akibat proses autolisis dan aktivitas mikroorganisme. Autolisis adalah perlunakan dan pencairan jaringan yang terjadi dalam keadaan steril melalui proses kimia yang disebabkan oleh enzim-enzim intraseluler, sehingga organ-organ yang kaya dengan enzim-enzim akan mengalami proses autilisis lebih cepat daripada organ-organ yang tidak memiliki enzim, dengan demikian pancreas akan mengalami autolisis lebih cepat dari pada jantung.
Proses autolisis ini tidak dipengaruhi oleh mikroorganisme oleh karena itu pada mayat yang steril misalnya mayat bayi dalam kandungan proses autolisis ini tetap terjadi. Proses auotolisis terjadi sebagai akibat dari pengaruh enzim yang dilepaskan pasca mati. Mula-mula yang terkena ailah nukleoprotein yang terdapat pada kromatin dan sesudah itu sitoplasmanya, kemudian dinding sel akan mengalami kehancuran sebagai akibatnya jaringan akan menjadi lunak dan mencair.
Pada mayat yang dibekukan pelepasan enzim akan terhambat oleh pengaruh suhu yang rendah maka proses autolisis ini akan dihambat demikian juga pada suhu tinggi enzim-enzim yang terdapat pada sel akan mengalami kerusakan sehingga proses ini akan terhambat pula. Pembusukan adalah proses penghancuran jaringan pada tubuh yang disebabkan terutama oleh bakteri anaerob yang berasal dari traktus gastrointestinal. Dimana basil Coliformis dan Clostridium Welchii merupakan penyebab utamanya, sedangkan bakteri yang lain seperti Streptococcus, Staphylococcus, B.Proteus,jamur dan enzim-enzim seluler juga memberikan kontribusinya sebagai organisme penghancur jaringan pada fase akhir dari pembusukan.
Setelah seseorang meninggal, maka semua sistem pertahanan tubuh akan hilang,bakteri yang secara normal dihambat oleh jaringan tubuh akan segera masuk ke jaringan tubuh melalui pembuluh darah, dimana darah merupakan media yang terbaik bagi bakteri untuk berkembang biak. Bakteri ini menyebabkan hemolisa, pencairan bekuan darah yang terjadi sebelum dan sesudah mati, pencairan trombus atau emboli, perusakan jaringan-jaringan dan pembentukan gas pembusukan. Bakteri yang sering menyebabkan destruktif ini sebagian besar berasal dari usus dan yang paling utama adalah Cl. Welchii. Bakteri ini berkembang biak dengan cepat sekali menuju ke jaringan ikat dinding perut yang menyebabkan perubahan warna. Perubahan warna ini terjadi oleh karena reaksi antara H2S (gas pembusukan yang terjadi dalam usus besar) dengan Hb menjadi Sulf-Meth-Hb.
Tanda pertama pembusukan baru dapat dilihat kira-kira 24 jam - 48 jam pasca mati berupa warna kehijauan pada dinding abdomen bagian bawah, lebih sering pada fosa iliaka kanan dimana   isinya  lebih cair, mengandung lebih banyak  bakteri dan letaknya yang  lebih superfisial. Perubahan warna ini secara bertahap akan meluas keseluruh dinding abdomen sampai ke dada dan bau busukpun mulai tercium. Perubahan warna ini juga dapat dilihat pada permukaan organ dalam seperti hepar, dimana hepar merupakan organ yang langsung kontak dengan kolon transversum.
Bakteri ini kemudian masuk kedalam pembuluh darah dan berkembang biak didalamnya yang menyebabkan hemolisa yang kemudian mewarnai dinding pembuluh darah dan jaringan sekitarnya. Bakteri ini memproduksi gas-gas pembusukan yang mengisi pembuluh darah yang menyebabkan pelebaran pembuluh darah superfisial tanpa merusak dinding pembuluh darahnya sehingga pembuluh darah beserta cabang-cabangnya tampak lebih jelas seperti pohon gundul (arborescent pattern atau arborescent mark) yang sering disebut marbling.
Selain bakteri pembusukan ini banyak terdapat dalam intestinal dan paru bakteri-bakteri ini cenderung berkumpul dalam sistem vena, maka gambaran marbling ini jelas terlihat pada bahu,dada bagian atas, abdomen bagian bawah dan paha. Bila Cl.Welchii mulai tumbuh pada satu organ parenchim, maka sitoplasma dari organ sel itu akan mengalami desintegrasi dan nukleusnya akan dirusak sehingga sel menjadi lisis atau rhexis. Kemudian sel-sel menjadi lepas sehingga jaringan kehilangan strukturnya. Secara mikroskopis bakteri dapat dilihat menggumpal pada rongga-rongga jaringan dimana bakteri tersebut banyak memproduksi gelembung gas. Ukuran gelembung gas yang tadinya kecil dapat cepat membesar menyerupai honey combed appearance. Lesi ini dapat dilihat pertama kali pada hati .
Kemudian permukaan lapisan atas epidermis dapat dengan mudah dilepaskan dengan jaringan yang ada  dibawahnya dan ini disebut ‘skin slippage’. Skin slippage ini menyebabkan identifikasi melalui sidik jari sulit dilakukan. Pembentukan gas yang terjadi antara epidermis dan dermis mengakibatkan timbulnya bula-bula yang bening, fragil, yang dapat berisi cairan coklat kemerahan yang berbau busuk. Cairan ini kadang-kadang tidak mengisi secara penuh di dalam bula. Bula dapat menjadi sedemikian besarnya menyerupai pendulum yang berukuran 5 - 7.5cm dan bila pecah meninggalkan daerah yang berminyak, berkilat dan berwarna kemerahan, ini disebabkan oleh karena pecahnya sel-sel lemak subkutan sehingga cairan lemak keluar ke lapisan dermis oleh karena tekanan gas pembusukan dari dalam. Selain itu epitel kulit, kuku, rambut kepala, aksila dan pubis mudah dicabut dan dilepaskan oleh karena adanya desintegrasi pada akar rambut.
Selama terjadi pembentukan gas-gas pembusukan, gelembung-gelembung udara mengisi hampir seluruh jaringan subkutan. Gas yang terdapat di dalam jaringan dinding tubuh akan menyebabkan terabanya krepitasi udara. Gas ini menyebabkan pembengkakan tubuh yang menyeluruh, dan tubuh berada dalam sikap pugilistic attitude. Scrotum dan penis dapat membesar dan membengkak, leher dan muka dapat menggembung, bibir menonjol seperti “frog-like-fashion”, Kedua bola mata keluar, lidah terjulur diantara dua gigi, ini menyebabkan mayat sulit dikenali kembali oleh keluarganya. Pembengkakan yang terjadi pada seluruh tubuh mengakibatkan berat badan mayat yang tadinya 57 - 63 kg sebelum mati menjadi 95 - 114 kg sesudah mati.
Tekanan yang meningkat didalam rongga dada oleh karena gas pembusukan yang terjadi didalam cavum abdominal menyebabkan pengeluaran udara dan cairan pembusukan yang berasal dari trachea dan bronchus terdorong keluar, bersama-sama dengan cairan darah yang keluar melalui mulut dan hidung. Cairan pembusukan dapat ditemukan di dalam rongga dada, ini harus dibedakan dengan hematotorak dan biasanya cairan pembusukan ini tidak lebih dari 200 cc. Pengeluaran urine dan feses dapat terjadi oleh karena tekanan intra abdominal yang meningkat. Pada wanita uterus dapat menjadi prolaps dan fetus dapat lahir dari uterus yang pregnan. Pada anak-anak adanya gas pembusukan dalam tengkorak dan otak menyebabkan sutura-sutura kepala menjadi mudah terlepas.
Organ-organ dalam mempunyai kecepatan pembusukan yang berbeda-beda dalam. Jaringan intestinal,medula adrenal dan pancreas akan mengalami autolisis dalam beberapa jam setelah kematian. Organ-organ dalam lain seperti hati, ginjal dan limpa merupakan organ yang cepat mengalami pembusukan.  Perubahan warna pada dinding lambung terutama di fundus dapat dilihat dalam 24 jam pertama setelah kematian. Difusi cairan dari kandung empedu kejaringan sekitarnya menyebabkan perubahan warna pada jaringan sekitarnya menjadi coklat kehijauan. Pada hati dapat dilihat gambaran honey combs appearance, limpa menjadi sangat lunak dan mudah robek, dan otak menjadi lunak.
Organ dalam seperti paru, otot polos, otot lurik dan jantung mempunyai kecendrungan untuk lambat mengalami pembusukan. Sedangkan uterus non gravid,  dan prostat merupakan organ yang lebih tahan terhadap pembusukan karena strukturnya yang berbeda dengan jaringan yang lain yaitu jaringan fibrousa. Organ-organ ini cukup mudah dikenali walaupun organ-organ lain sudah mengalami pembusukan lanjut. Ini sangat membantu dalam penentuan identifikasi jenis kelamin. Yang menarik pada pembusukan lanjut dari organ dalam ini adalah pembentukan granula-granula milliary atau ‘ milliary plaques’ yang berukuran kecil dengan diameter 1-3 mm yang terdapat pada permukaan serosa yang terletak pada endotelial dari tubuh seperti pleura, peritoneum, pericardium dan endocardium. ‘Milliary plaques’ ini pertama kali ditemukan oleh Gonzales yang secara mikroskopis berisi kalsium pospat, kalsium karbonat, sel-sel endotelial, massa seperti sabun dan bakteri, yang secara medikolegal sering dikacaukan dengan proses peradangan atau keracunan. Pada orang yang obese, lemak-lemak tubuh terutama perirenal, omentum dan mesenterium dapat mencair menjadi cairan kuning yang transluscent yang mengisi rongga badan diantara organ yang dapat menyebabkan autopsi lebih sulit dilakukan dan juga tidak menyenangkan.
Disamping bakteri pembusukan insekta juga memegang peranan penting dalam proses pembusukan sesudah mati. Beberapa jam setelah kematian lalat akan hinggap di badan dan meletakkan telur-telurnya pada lubang-lubang mata, hidung, mulut dan telinga. Biasanya jarang pada daerah genitoanal. Bila ada luka ditubuh mayat lalat lebih sering meletakkan telur-telurnya pada luka tersebut, sehingga bila ada telur atau larva lalat didaerah genitoanal ini maka dapat dicurigai adanya kekerasan seksual sebelum kematian. Telur-telur lalat ini akan berubah menjadi larva dalam waktu 24 jam. Larva ini mengeluarkan enzim proteolitik yang dapat mempercepat penghancuran jaringan pada tubuh.
Insekta tidak hanya penting dalam proses pembusukan tetapi meraka juga memberi informasi penting yang berhubungan dengan kematian. Insekta dapat dipergunakan untuk memperkirakan saat kematian, memberi petunjuk bahwa tubuh mayat telah dipindahkan dari satu lokasi ke lokasi lainnya, memberi tanda pada badan bagian mana yang mengalami trauma, dan dapat dipergunakan dalam pemeriksaan toksikologi bila    jaringan untuk specimen standart juga sudah mengalami pembusukan.
Hasil akhir dari proses pembusukan ini adalah destruksi jaringan pada tubuh mayat. Dimana proses ini dipengaruhi oleh banyak faktor. Aktifitas pembusukan sangat optimal pada temperatur berkisar antara 70°-100°F (21,1-37,8°C) aktifitas ini dihambat bila suhu berada dibawah 50°F(10°C) atau pada suhu diatas 100°F (lebih dari 37,8°C). Bila mayat diletakkan pada suhu hangat dan lembab maka proses pembusukan akan berlangsung lebih cepat. Sebaliknya bila mayat diletakkan pada suhu dingin maka proses pembusukan akan berlangsung lebih lambat. Pada mayat yang gemuk proses pembusukan berlangsung lebih cepat dari pada mayat yang kurus oleh karena kelebihan lemak akan menghambat hilangnya panas tubuh dan kelebihan darah merupakan media yang baik untuk perkembangbiakkan organisme pembusukan.
Pada bayi yang baru lahir hilangnya panas tubuh yang cepat menghambat pertumbuhan bakteri disamping pada tubuh bayi yang baru lahir memang terdapat sedikit bakteri sehingga proses pembusukan berlangsung lebih lambat.Proses pembusukan juga dapat dipercepat dengan adanya septikemia yang terjadi sebelum kematian seperti peritonitis fekalis, aborsi septik, dan infeksi paru. Disini gas pembusukan dapat terjadi walaupun kulit masih terasa hangat.
Media di mana mayat berada juga memegang peranan penting dalam  kecepatan pembusukan mayat. Kecepatan pembusukan ini di gambarkan dalam rumus klasik Casper dengan perbandingan tanah : air : udara = 1 : 2 : 8 artinya mayat yang dikubur di tanah umumnya membusuk 8 x lebih lama dari pada mayat yang terdapat di udara terbuka. Ini disebabkan karena suhu di dalam tanah yang lebih rendah terutama bila dikubur ditempat yang dalam, terlindung dari predators seperti binatang dan insekta, dan rendahnya oksigen menghambat berkembang biaknya organisme aerobik.
Bila mayat dikubur didalam pasir dengan kelembaban yang kurang dan iklim yang panas maka jaringan tubuh mayat akan   menjadi kering sebelum terjadi pembusukan. Penyimpangan dari proses pembusukan ini di sebut mumifikasi. Pada mayat yang tenggelam di dalam air pengaruh gravitasi tidaklah lebih besar dibandingkan dengan daya tahan air akibatnya walaupun mayat tenggelam diperlukan daya apung untuk mengapungkan tubuh di dalam air, sehingga mayat berada dalam posisi karakteristik yaitu kepala dan kedua anggota gerak berada di bawah sedangkan badab cenderung berada di atas akibatnya lebam mayat lebih banyak terdapat di daerah kepala sehingga kepala menjadi lebih busuk dibandingkan dengan anggota badan yang lain. Pada mayat yang tenggelam di dalam air proses pembusukan umumnya  berlangsung lebih lambat dari pada yang di udara terbuka. Pembusukan di dalam air terutama dipengaruhi oleh temperatur air, kandungan bakteri di dalam air. Kadar garam di dalamnya dan binatang air sebagai predator
Degradasi dari sisa-sisa tulang yang dikubur juga cukup bervariasi. Penghancuran tulang terjadi oleh karena demineralisasi, perusakan oleh akar tumbuhan. Derajat keasaman yang terdapat pada tanah juga berpengaruh terhadap kecepatan penghancuran tulang. Sisa-sisa tulang yangn dikubur pada tanah yang mempunyai derajat keasaman yang tinggi lebih cepat terjadi penghancuran daripada tulang yang di kubur di tanah yang bersifat basa.
Bau busuk dari tubuh mayat tidak hanya mengganggu, namun juga membahayakan. Pembusukan dimulai dengan pemutusan ikatan protein-protein besar pada jaringan tubuh oleh bakteri fermentasi menggunakan enzim protease. Kumpulan hasil pemutusan ikatan protein yang disebut asam amino ini dicerna berbagai jenis bakteri, misalnya bakteri acetogen. Bakteri ini mereaksikan asam amino dengan oksigen dalam tubuhnya untuk menghasilkan asam asetat, hidrogen, nitrogen, serta gas karbon dioksida. Produk asam asetat ini menimbulkan bau.
Ada 9 faktor yang mempengaruhi cepat-lambatnya pembusukan mayat, yaitu : 1. Mikroorganisme. Bakteri pembusuk mempercepat pembusukan. 2. Suhu optimal yaitu 21-370C mempercepat pembusukan. 3. Kelembaban udara yang tinggi mempercepat pembusukan. 4. Umur. Bayi, anak-anak dan orang tua lebih lambat terjadi pembusukan. 5. Konstitusi tubuh. Tubuh gemuk lebih cepat membusuk daripada tubuh kurus. 6. Sifat medium. Udara : air : tanah (1:2:8). 7. Keadaan saat mati. Udem mempercepat pembusukan. Dehidrasi memperlambat pembusukan. 8. Penyebab kematian. Radang, infeksi, dan sepsis mempercepat pembusukan. Arsen, stibium dan asam karbonat memperlambat pembusukan. 9. Seks. Wanita baru melahirkan (uterus post partum) lebih cepat mengalami pembusukan.

PERILAKU AGRESIF PADA HEWAN

PERILAKU AGRESIF PADA HEWAN

I.      Pendahuluan
            Analisis perilaku memerlukan pengamatan yang tajam dan kesabaran yang tinggi. Pergerakan-pergerakan harus dijelaskan, dikategorikan dan dipetakan sebelum fungsi perilaku tersebut dipastikan. Apa yang mungkin terlihat sebagai pergerakan yang acak, tidak berhubungan, mungkin sebenarnya cocok pada suatu pola yang didesain untuk membantu reproduksi, nutrisi, atau beberapa fungsi hidup penting lainnya untuk sintas. Bagi etolog-etolog profesional, analisis suatu perilaku hewan bisa berlangsung berbulan-bulan atau bertahun-tahun, tetapi disini kita hanya melakukan sebagian kecil dari suatu perilaku kompleks yang diamati oleh para etolpog tersebut.
            Dalam kegiatan praktikum ini kita mempelajari suatu contoh perilaku agresif, suata perilaku yang banyak ditemukan pada hewan. Sejumlah besar invertebrata mempunyai kebiasaan ”berkelahi” yang berkembang dengan baik, dan perilaku berkelahi semua jenis vertebrata mulai dari ikan sampai manusia sudah kita kenal dengan baik. Berkelahi mempunyai beberapa fungsi antara lain: memberikan jarak antar individu pada suatu kondisi, di mana makanan atau sumber daya lainnya terbatas, menjamin keberhasilan hasil reproduksi (reproduksi umumnya sukses pada individu, terkuat dan sifat ini akan diturunkan pada generasi selanjutnya) jauh lebih sering dibandingkan pada individu-individu yang kurang kompetitif dalam populasi.
            Perilaku agresif menuntun pada kondisi hierarki sosial dan teritori atau kedua-duanya. Praktikum ini dirancang  untuk menunjukan hanya hierarki sosial, bagaimana dominasi suatu individu terhadap individu lainnya berkembang dengan cepat setelah terjadinya konflik pertama. Kita akan membagi perilaku mengancam (theat dispaly) dalam beberapa komponen, dan mengamati si pemenang serta si pecundang dalam perkelahian tersebut. Ikan cupang sebagai subjek pengamatan, seperti halnya pada kebanyakan hewan, tidak berkelahi sampai mati. Si pecundang akan menjauh setelah siripnya rusak, tetapi tidak sampai pada kerusakan yang serius.     


II.      Tujuan
·         Mengamati tahapan-tahapan perilaku yang terjadi pada saat ikan cupang berkelahi

III.      Prosedur Percobaan
a.      Alat/ Bahan
·         Akuarium plastik 1/ kelompok
·         Sekat gelap 1/ kelompok
·         Pencatat waktu
·         2 ekor ikan cupang jantan (Betta splendens)
b.      Cara Kerja
Pengamatan perilaku agresif pertama
  1. Lakukan pengamatan dengan hati-hati, buka tutup akuarium bagian-bagian lain akuarium  yang membuat ikan jadi takut. Ikan-ikan tidak akan berlaku normal dalam kondisi tertekan. Lakukan pengamatan dari jarak yang cukup jauh.
  2. Ikan yang diisolasi diamati lebih dulu dalam akuarium dimana kedua ikan dipisahkan dengan pembatas yang gelap. Pengamatan dilanjutkan secara kualitatif dan kuantitatif untuk perilaku mengancam selama beberapa pertemuan setelah sekat dilepas.
  3. Sebelum pengamatan, lakukan aklimasi pada kedua ikan cupang jantan pada akuarium yang diberi sekat gelap selama 24 jam. Berilah makanan selama aklimasi (Tubifex, Chironomous, dsb)
  4. Amati masing-masing ikan, catat bentuk sirip  dan bandingkan dengan pada saat kedua ikan tersebut berinteraksi. Amati sirip mana yang paling berperan untuk berenang. Bagaimana warna  tubuh ikan tersebut.
  5. Catat laju pergerakan insang dengan menghitung pembesaran overkulum setiap selang waktu dua menit. Hitung laju tersebut paling tidak tiga kali. Catat pula laju pembentukan gelembung (5menit)
  6. Perhatikan apakah ikan tersebut muncul ke permukaan, bisakah ditentukan interval waktunya.
  7. Untuk pengamatan perilaku interaksi dua individu lakukan hal-hal berikut:
·         Angkat sekat di akuarium dan perhatikan bagaimana reaksi dari ikan tersebut. Anda bisa mengangkat dan meletakkan kembali sekat dengan interval waktu 7 menit. Pengangkatan pertama adalah untuk mengenali perilaku umum dari ikan tersebut.
·         Setelah 7 menit, letakkan kembali sekat sehingga kedua ikan tersebut terpisah kembali. Biarkan selama 7 menit dan angkat kembali sekat tersebut. Pertemuan kedua ikan akan melibatkan perilaku-perilaku seperti yang tercantum dibawah ini. Urutkan tidak terlampau penting. Pertemuan akan berlangsung 4-14 menit, sehingga anda harus mengamati dengan cepat.
§  Melebarkan sirip secara vertikal
§  Salah satu iakn memperlihatkan bagian samping tubuhnya pada ikan lain
§  Posisi saling berhadapan
§  Membuka/ melebarkan operkulum dan berkas branchiostegi
§  Membuka sirip ekor. Bisa juga membuka dan menutup berkas sirip ekor
§  Menggoyang-goyang ekor tiba-tiba dan cepat berlangsung ¼ detik
§  Gataran sirip pelvic
§  Menggigit dan merusak. Gigitan mungkin langsung pada ekor atau sirip, dan menyebabkan kerusakan. Kerusakan (sobek) ini tidak serius dan sembuh dalam 2 atau 3 hari. Sering kedua ikan ”mengunci” rahang dan ”bergulat” sampai dasar air. Perilaku ini bisa berlangsung beberapa menit.
§  Perubahan warna. Perubahan warna berlangsung cepat dan tajam tapi sulit untuk dijelaskan dalam kata-kata. Warna menjadi tua pada saat kedua ikan bertemu dan menjadi bagian kepala serta sepanjang punggung menjadi hitam. Warna sirip menjadi biru dan hijau terang  kontras dengan warna gelap tubuh.
§  Perkelahian selesai jika salah satu ikan berhenti untuk menunjukan gerakan ”mengancam” dan ”menurunkan ekornya” sambil dikejar oleh ikan yang menang.


  1. Setelah anda mengamati perilaku perkelahian secara penuh (sampai ada ikan kalah), letakkan kembali sekat, dan diskusikan hasil pengamatan yang diperoleh. Biarkan ikan beristirahat selama 7 menit.
  2. Berikut ini dikemukakan bagaimana cara pengamatan yang bersifat kuantitatif.


Pengamatan perilaku agresif kedua
  1. Waktu yang dipakai untuk konflik. (Waktu sampai salah satu ikan kalah)
  2. Berapa kali ikan ”bertatapan muka”. Sajikan dalam jumlah dalam  interval waktu 2 menit, isikan dalam tabel. Beri kode TM setiap terjadi tatap muka.
  3. Jumlah operkulum membesar setiap dua menit. Tandai sebagai OM.

Pengamatan perilaku agresif ketiga
1.      Catat waktu konflik
2.      Jumlah getaran sirip pelvis setiap dua menit. Tandai GP
3.      Jumlah pukulan / goyangan ekor selama konfliks. Tandai FE

Pengamatan perilaku agresif keempat
Amati perubahan warna pada setiap tahapan perkelahian

IV.      Data Hasil Pengamatan
  1. Pada kegiatan pengamatan 1 dari data kualitatif mengenai perilaku berkelahi, apakah semua bentuk perilaku muncul? Tidak semua perilakunya muncul, hanya sebagian saja. Perilaku mana yang paling dominan? Perilaku yang dominan muncul adalah perilaku  menggetarkan sirip pelvic, membuka sirip ekor, membuka / melebarkan operkulum dan berkas branchiostegi.
  2. Pada kegiatan pengamatan 2 ( pengamatan kedua sampai ketiga) isikan ke dalam tabel yang tersedia!Dari hasil tersebut, buatlah suatu kesimpulan mengenai tahapan perilaku agresif pada ikan cupang.

Tabel 1: Ikan yang diisolasi

Gerakan insang
Rata-rata/ 2 menit
Gelembung udara
Rata-rata/ 5 menit
Ikan A
3
-
Ikan B
7
-

Tabel 2: Perilaku agresif 2

Total waktu yang dipakai
Tatap muka
(TM)
Operculum membuka  (OM)
∑ / 2menit
∑  total
∑ / 2 menit
∑ total
Ikan A
6 menit
1/1/2
4
1/1/3
5
Ikan B
6 menit
2/3/1
5
2/4/4
10


Tabel 3 : Perilaku agresif 3

Total waktu yang dipakai
Getaran sirip pelvis
Pukulan / goyangan ekor
∑ / 2 menit
∑ total
∑ / 2 menit
∑ total
Ikan A
6 menit
90/89/102
281
1/2/4
7
Ikan B
6 menit
92/90/125
307
3/6/7
16

  1. Warna awal ikan
    • Ikan A : Dominan merah menyala, ada hitamnya, keunguan sedikit dibagian ekornya.
    • Ikan B : Dominan merah, ada hitamnya, keunguan sedikit pada bagian ekornya.
Warna pada saat perkelahian
·         Ikan A : Warna ikannya memucat menjadi warna coklat muda (warna awal- kehitaman semua warna tubuhnya-coklat-coklat muda transparan)
·         Ikan B : Semakin pekat warna merahnya hampir kehitaman



V.      Pembahasan

            Pada praktikum penelitian perilaku agresif ini kami menggunakan ikan cupang jantan dari jenis  Betta splendens Rega. Karena ikan cupang jantan dijadikan sebagai “ikan aduan” karena sifatnya yang gemar berkelahi apabila diletakkan dalam satu wadah yang sama. Ikan cupang merupakan jenis ikan hias yang mempunyai naluri berkelahi yang tinggi. Ikan cupang jantan lebih agresif daripada ikan cupang betina. Hal ini dikarenakan ikan cupang jantan lebih sering berkelahi dengan sesama jenisnya. Bagian tubuh yang biasanya diincar ikan cupang jantan adalah bagian sirip. Karakter tersebut muncul karena ikan cupang merupakan salah satu jenis spesies yang mempertahankan daerah kekuasaannya sampai mati. Naluri berkelahi cupang tidak muncul ketika usia cupang masih sangat dini, tetapi akan muncul apabila cupang sudah beranjak remaja, ialah sekitar 2 bulan.

            Ikan cupang ynag kami teliti ada 2 yaitu ikan ikan A (Besar tubuhnya) dan ikan B ( Kecil tubuhnya). Dari kedua ikan ini yang paling agresif yaitu ikan cupang B (Kecil tubuhnya). Dalam penelitian kami, kami banyak meneliti berbagai aspek perilaku dan perubahan morfologi tubuhnya juga dari cupang tersebut. Sirip yang paling berperan untuk berenang adalah sirip pectoral. Cupang mengalami pembesaran overculum  dalam setiap menitnya, ikan cupang B yang sering melakukan pembesaran overculum. Pada saat keadaan normal (ikannya masih sendiri) kami tidak melihat adanya pembentukan gelembung pada ke dua ikan tersebut.
Ikan cupang sering muncul kepermukaan air, untuk ikan A muncul kepermukaan dengan interval 1 menit sekali dan untuk ikan B muncul kepermukaan dengan interval  ½ menit sekali. Hal tersebut dilakukan ikan cupang karena ikan cupang menyembulkan ujung moncongnya untuk menghirup udara di atas permukaan air, yaitu untuk menghirup oksigen yang berada di alam bebas. Kemudian oksigen tersebut disimpan di labirin sebagai cadangan oksigen. Kebiasaan tersebut yang membuat ikan cupang mampu hidup di perairan dengan konsentrasi oksigen yang rendah.
            Pada saat kami membuka sekat pembatas kedua ikan tersebut, disinilah terjadi perilaku agresif yang diperlihatkan oleh ikan cupang tersebut.  Kegemaran berkelahinya akan semakin memuncak apabila ikan cupang diletakkan di baskom, akuarium, toples, atau tempat pemeliharaan lain. Hal ini dikarenakan ikan cupang telah terbiasa hidup di tempat yang lebih nyaman bila dibandingkan dengan selokan atau tempat lainnya. Ketika melakukan pertarungan, ikan cupang jantan menghampiri lawan tandingnya. Kemudian ikan cupang jantan mempertontonkan sirip pada musuhnya. Sirip yang semula terlihat lemas dalam hitungan detik akan mengembang. Tidak hanya sirip yang dipertontonkan, tetapi sirip cadangan lain yaitu membrana branchiostegi dan tutup insang pada lengkungan leher juga ikut mengembang.
            Ikan yang lebih agresif adalah ikan B dan dia menggigit ikan A sehingga mengalami kerusakan (sobek) pada bagian sirip dorsal dan sirip ekor ikan A. Untuk ikan A pada kondisi tenang berwarna Dominan merah menyala, ada hitamnya, keunguan sedikit dibagian ekor. Sedangkan pada saat terjadi perkelahian warnanya menjadi memucat menjadi warna coklat muda transparan (warna awal- kehitaman semua warna tubuhnya-coklat-coklat muda transparan).
Untuk ikan B pada kondisi tenang berwarna Dominan merah, ada hitamnya, keunguan sedikit pada bagian ekornya. Sedangkan pada saat terjadi perkelahian warnanya menjadi semakin pekat warna merahnya hampir kehitaman. 
            Jadi untuk perilaku perkelahian ini, ikan B yang memenangkannya meskipun dari morfologi tubuhnya, dia lebih kecil bentuk tubuhnya dari ikan A. Pada saat ikan A sudah merasa kalah, dia menurunkan ekornya dan diam di dasar air.  Tetapi ikan B masih saja mengejar ikan A.
Perilaku agonistik adalah perilaku yang berhubungan dengan agresivitas dan konflik, termasuk berkelahi, melarikan diri, diam, dan beragam ancaman yang terjadi antar individu dalam suatu populasi (Campbell et al., 2003 dan Lehner, 1996). Terdapat sepuluh perilaku agonistik yang dapat dideskripsikan, yaitu menjelajah (explore), mendekati (approach), bergerak memutar (circle), mengancam dari samping (side threat), mengancam dari depan (frontal threat), mengibaskan ekor (tail flagging), mengejar (chase), kontak mulut (mouth-to mouth contact), menggigit (bite), dan melarikan diri (flight).
Data hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan cupang hias maupun cupang adu memiliki perbedaan latensi, frekuensi, durasi, dan jarak antar ikan saat perilaku terjadi, bergantung pada tipe perilaku, tipe percobaan, dan ras lawan yang dihadapi.

PERILAKU PENGASUHAN PADA ORANG UTAN

Perilaku Pengasuhan Pada Orang Utan

Kerajaan:
Filum     :
Kelas      :
Ordo       :
Famili     :
Genus     :
Pongo Lacépède
                      Spesies   :     Simia pygmaeus Linnaeus,
                        Orangutan betina biasanya melahirkan pada usia 7-10 tahun dengan lama kandungan berkisar antara 8,5 hingga 9 bulan; hampir sama dengan manusia. Jumlah bayi yang dilahirkan seorang betina biasanya hanya satu. Bayi orang utan dapat hidup mandiri pada usia 6-7 tahun. Seperti halnya manusia, induk orangutan tak segan-segan mengasuh, mendidik, memberi contoh memilih makanan, dan membuat sarang bagi si kecil dan memberi kasih sayang kepada anaknya yang masih kecil, hingga dirasa dia bisa hidup secara mandiri lepas sama sekali dari induknya. Jadi orangutan sama halnya seperti manusia, dia akan mengajarkan tentang beradaptasi dengan lingkungannya, sampai dia benar-benar dewasa dan mampu menjalankan hidup sendiri.
 Orang utan betina yang baik, tak segan-segan mengasuh, mendidik, memberi contoh memilih makanan, dan membuat sarang bagi si kecil. Namun, tidak jarang ada yang judes;tidak suka didekati orang utan kecil, bahkan merebut makanan yang dipegangnya. Betina baik hati akan rela berperan sebagai ibu orang utan kecil yang yatim piatu. Di pihak lain, pejantan dengan sifat yang baik akan melindungi orang utan kecil dari gangguan orang utan dewasa yang usil. Sifat-sifat yang menguatkan teori Darwin bahwa mereka masih kerabat dekat dengan manusia. Contoh kasus tentang pola asuh kehidupan orangutan, kita bisa cermati cerita kisah seekor orang utan betina yang mempunyai anak dibawah ini.  
Tutut, hanyalah sebuah nama untuk orangutan betina yang mempunyai dua anak kandung. Kasih sayangnya terhadap bayi atau anak orangutan, baik anaknya sendiri maupun yatim piatu yang datang di lokasi rehabilitasi orangutan di dalam kawasan Taman Nasional Tanjung Puting merupakan suatu contoh, bahwa tak hanya manusia yang mampu mengadopsi anak, tetapi bangsa kera pun dapat melakukannya. Sebenarnya tak hanya Tutut yang dapat melakukan pengambilan anak angkat, tetapi ada beberapa orangutan yang telah melakukan hal seperti itu. Paling tidak ada 4 ekor orangutan yang pernah melakukan dan dua jantan remaja yang mengambil si yatim piatu untuk diasuh.
Ada beberapa faktor yang menarik perhatian orangutan betina dewasa muda untuk melakukan pengasuhan anak yang bukan anak kandungnya. Kali ini Tutut sebagai ceritera dalam kasus ini. Tahun 1983, sekitar bulan November, Tutut mempunyai anak yang pertama, diberi nama Tom, jantan. Dan waktu itu umur Tutut sekitar 12 tahun. Orangutan yang semi liar ini kadang-kadang berbulan-bulan ke hutan dan tak kembali saat musim buah tiba. Pernah dijadikan obyek penelitian sebagai pembanding, kasih sayangnya induk terhadap anak, baik terhadap anak kandung maupun anak angkat. Memang perlakuan orangutan terhadap anaknya, tidak membedakan antara anak kandung dengan anak angkat, hanya saja mereka mengutamakan anak yang lebih muda usianya. Umur anak pertama Tutut, Tom, belum beranjak 4 tahun, Tutut mengambil anak angkat Nancy, betina. Dengan rasa kasih dan sayang, kedua anak yang berbeda status ini diasuh dan digendong ke sana ke mari, tentu saja Tutut lebih banyak memperhatikan Nancy karena usianya lebih muda dari Tom. Tom kadang cemburu, kecemburuan seekor anak orangutan biasanya diperlihatkan dengan marah dan menjerit seperti menangis sambil berguling-guling, persis anak-anak manusia bila tidak dituruti kemauannya dan lantas ngambek.
Pertengahan tahun 1989, ketika Tutut akan melahirkan anak kedua, mengalami kegagalan, prematur. Tutut sepertinya frustasi. Dia mengambil anak angkat lagi, Hutabarat, jantan. Mungkin untuk mengganti kekecewaan anak kandungnya yang mati. Kemanapun pergi, mereka bertiga bersama satu anak kandung dan dua anak angkatnya. Tidur dalam satu sarang dan berkelana mencari makan. Hutabarat yang masih muda, dalam pelukan terus. Tom dan Nancy mengikuti dari belakang. Kini Tutut telah mempunyai anak lagi, lahir pertengahan Agustus 1994. Anak-anaknya sudah mandiri, sudah dapat mencari makan sendiri. Tom sudah perjaka dan mulai berpacaran, sedangkan Nancy sudah gadis dan sering berpasangan dengan perjaka lain, dan dipersunting perjaka rimba. Bahkan Tutut hampir mempunyai cucu. Sedangkan Hutabarat yang menginjak remaja sudah dapat mengembara di hutan sendiri atau bersama rekan-rekan senasib yang kehilangan orangtuanya.
Perilaku orangutan seperti ini, dapat dijadikan contoh dalam usaha rehabilitasi. Karena ternyata, anak orangutan yang diasuh oleh induknya, tak menemui permasalahan baik itu penyakit ataupun kesulitan dalam beradatapsi dengan lingkungannya. Karena tak pernah kontak langsung dengan manusia. Selain itu mendapatkan susu ibu yang dapat memberikan kekebalan pada anak orangutan.
Di seluruh dunia, diperkirakan ada puluhan jenis lutung. Dari sekian puluh jenis lutung itu, beberapa di antaranya merupakan binatang khas Indonesia. Salah satunya adalah lutung jawa (Trachyphitecus auratus). Disebut lutung jawa karena lutung ini berbeda dengan lutung-lutung di pulau lain. Di Sumatera dan Kalimantan misalnya, rambut lutung berwarna keperakan. Di pulau Jawa, lutung punya dua subspesies. Lutung yang hidup di hutan-hutan di Jawa bagian barat, seperti di Ujung Kulon, Gunung Halimun, dan Gunung Gede “ Pangrango, dinamai Trachyphitecus auratus mauritus. Sedangkan yang hidup di hutan-hutan Jawa bagian timur, seperti di Gunung Dieng, Merbabu, dan Semeru, disebut Trachyphitecus auratus auratus. Kedua jenis lutung ini sama-sama disebut lutung jawa. Orang Inggris bilang javan langur. Tak ada sebutan œlutung sunda.
Salah satu ciri khas lutung jawa adalah rambut kepalanya yang jabrik mengarah ke depan. Karena jabriknya ke arah depan, lutung kelihatan seperti habis bercukur gaya poni depan. Ciri khas ini membedakan lutung dari jenis monyet lainnya seperti monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Rambutnya selalu tampak acak-acakan. Maklum, tak pernah bersisir. Mukanya lucu dan kelihatan seperti memelas. Lebih-lebih lutung yang masih anakan. Sambil bergayut manja di pelukan emaknya, lutung anakan kelihatan seperti boneka teletubbies atau bayi manusia yang tak mau lepas dari tetek ibunya. Saat bayi, semua lutung berwarna merah bata. Jika ia œlutung sunda, warna merah ini pelan-pelan berubah menjadi hitam ketika dewasa. Tapi jika ia lutung semeru atau lutung dieng, ia punya dua kemungkinan saat dewasa. Tetap merah bata atau berubah menjadi hitam keabu-abuan.
Di habitat aslinya, hewan-hewan ini hidup berkelompok. Satu kelompok biasanya terdiri dari 5 sampai 25 ekor. Tiap kelompok dipimpin oleh seorang pejantan kepala suku. Anggota kelompok terdiri dari para betina dan anak-anak. Kepala suku punya dua tugas utama. Tugas pertama, tugas enak, mengawini para betina. Tugas kedua, tugas tidak enak, melindungi para anggota kelompoknya dari serangan musuh.
Ancaman musuh bisa berasal dari lutung lain kelompok, bisa juga berasal dari jenis hewan lain. Jika ditantang lutung pejantan lain, si kepala suku tak bisa menolak tantangan itu dan harus bersedia bertarung satu lawan satu. Bila menang, ia boleh tetap menjadi kepala suku yang disegani dan dicintai para betina. Tapi jika kalah, ia harus merelakan penantangnya menjadi pemimpin baru. Otomatis, para betina juga harus mau diperistri oleh kepala suku yang baru itu. Lutung jenis tertentu seperti lutung india (yang kita kenal sebagai hanuman) punya perilaku sedikit ”bengis”. Jika seekor lutung penantang menjadi penguasa baru, ia akan membunuh anak-anak tak berdosa di kelompok yang ia kalahkan. Tujuannya supaya para induk betina mau diajak kawin dan punya anak lagi.

Seperti kebanyakan monyet lainnya, lutung tergolong herbivora. Makanan utamanya dedaunan dan sedikit buah-buahan. Karenanya, dalam bahasa Inggris, mereka disebut leaf monkey. Di hutan, mereka biasanya hidup di pucuk-pucuk pohon tinggi sebab di sana mereka gampang mencari makanan. Jika lapar, tinggal melahap pucuk daun yang masih muda. Tak perlu bersusah payah berburu mangsa. Mereka biasanya sarapan pada pagi hari menjelang siang. Persis pada saat para pekerja kantoran sedang sibuk di jam-jam awal kerja sebelum istirahat. Setelah sarapan, bersamaan dengan waktu para karyawan sedang makan siang, mereka tidur-tiduran di atas pohon.  Menurut Halim Fatrah, dari Pusat Primata Schmutzer Taman Margasatwa (PPS TM) Ragunan, Jakarta, saluran pencernaan lutung beruang-ruang, mirip hewan memamah biak. Sehabis makan, mereka biasanya bermalas-malasan dulu, memberi kesempatan lambungnya memfermentasi dedaunan yang baru mereka santap.
Sambil bermalas-malasan, mereka melakukan grooming, saling membersihkan badan bersama anggota kelompok yang lain. Kegiatan ini tidak hanya dilakukan oleh sesama betina, tapi juga antara lutung betina dan lutung jantan. Secara bergantian, mereka mencari kutu di sela-sela rambut kawannya. Juga secara bergantian membersihkan bagian-bagain tubuh kawannya yang tidak bisa dijilati sendiri seperti rambut leher, punggung, dan tengkuk.
Seekor lutung dewasa panjang badannya sekitar 80 cm. Biasanya ekor lebih panjang daripada badannya. Lutung jantan bobotnya sekitar 8 sampai 15 kg. Betinanya lebih kecil, hanya sekitar 5 sampai  9 kg. Dengan bobot yang ringan itu, lutung bisa dengan licah berloncatan dari satu ranting ke ranting lain tanpa menyebabkannya patah.
Mereka tidak ahli membuat sarang. Biasanya mereka menjadikan percabangan pohon di bagian atas sebagai tempat tinggal. Jika tidur, mereka cukup telungkup di atas cabang itu. Beres. Tak perlu takut jatuh karena mereka tidur dengan tenang. Jika hujan, mereka berteduh di bawah kanopi daun-daun. Saat berumur 6 tahun, lutung sudah siap kawin. Jika sedang birahi, lutung betina punya perilaku unik. Untuk menarik perhatian pejantan kepala suku, ia mengoyang-goyangkan kepala sambil memamerkan pantatnya kepada si jantan.
Selama masa hidupnya, seekor lutung betina bisa hamil 5 sampai  6 kali, dengan masa kehamilan 6 -7 bulan. Di alam bebas, rata-rata mereka bisa mencapai umur 20 sampai  25 tahun. Harapan hidup ini separuh lebih pendek daripada kerabat kera, seperti orangutan, yang bisa mencapai 50 tahun. Sekadar mengingatkan, monyet (monkey) berbeda dengan kera (ape). Monyet punya ekor sedangkan kera tidak.

Di alam liar, lutung merupakan mata rantai makanan di bawah macan tutul dan elang. Macan tutul sanggup memburu lutung karena ia bisa memanjat pohon. Sementara elang lebih suka memilih bayi-bayi lutung yang masih belum mahir melarikan diri. Namun saat ini predator lutung yang paling berbahaya bukan lagi macan tutul atau elang tapi primata jenis lain dari spesies Homo sapiens yaitu ”manusia”. Sekali lagi, manusia. Spesies ini adalah predator yang paling rakus dan berbahaya. Macan tutul hanya memangsa lutung jika sedang lapar. Manusia tidak. Ia memburu hewan ini sebanyak yang ia bisa bawa pulang. Jika perlu, satu keluarga lutung.
Selain karena area hutan yang semakin habis, populasi mereka juga terancam oleh perburuan manusia. Menurut catatan ProFauna Indonesia, para lutung itu ditangkap lalu diperjualbelikan. Konon, dagingnya juga dimakan sebagai sate atau sop. Kata Halim, tubuh maupun kotoran lutung baunya mirip kambing. Mungkin karena baunya yang mirip kambing itu, makanya lutung juga dimakan dagingnya,duganya.
Jika tidak disantap di meja makan, lutung biasanya dipiara sebagai hewan rumahan karena tampangnya yang lucu. Karena tergolong hewan yang dilindungi, lutung sebetulnya tidak boleh dipiara sebagai hewan rumahan. Yang boleh memelihara hanya institusi yang berwenang seperti kebun binatang atau pusat penelitian.
Hidup sebagai binatang piaraan tidak menjamin nasib mereka lebih baik. Di rumah Homo sapiens, mereka hidup kesepian sebab tidak bisa melakukan grooming. Tak mungkin mereka melakukannya dengan tuan rumah. Padahal bagi lutung, aktivitas ini merupakan salah satu kebutuhan dasar hidup mereka. Soal makan, mungkin saja hidup mereka terjamin. Tapi jika tidak bisa grooming, mereka bakal hidup merana.
Karena hidup merana, biasanya mereka menjadi nakal jika dipiara. Masa lucunya hanya pada saat masih bayi. Setelah dewasa, lucunya hilang. Tak jarang, pemiliknya kewalahan lalu menyerahkannya ke kebun binatang. Menurut cerita Halim, beberapa ekor lutung di PPS TM Ragunan berasal dari hewan rumahan yang dihibahkan oleh pemiliknya karena mereka sudah bosan dan kewalahan merawatnya.
Di PPS TM Ragunan, para lutung itu bisa berkumpul bersama sesama lutung. Di siang hari, setelah sarapan mereka bisa bermalas-malasan, bergantian mencari kutu sambil bersenandung, Kemesraan ini ¦ janganlah cepat berlalu…